Mukena, target pertama setelah membeli mesin jahit :D
Membuatnya membutuhkan effort yang cukup tinggi, terutama dari segi waktu.
Setelah berbulan-bulan lamanya akhirnya mukenanya sudah bisa dipakai ^_^
And here it is....
***
![]() |
| The Airlines |
Sampailah saya di daerah bernama Hobbemaplein yang saya cukup familiar dengan namanya, karena menjadi salah satu target untuk dikunjungi (Haagse Markt). Saya juga beruntung bertemu dengan orang Indonesia yang membantu saya membaca jalur Tram yang terpampang di halte :D
Akhirnya saya naik Tram 11 dan turun di Laan Vaan Meerdervoort, jalan besar dimana hotel tempat menginap berada. Namun saya masih harus bertanya lagi ke beberapa orang karena ternyata jarak hotel dari tempat saya turun masih sekitar 500 meter. There was a very nice couple yang membantu saya menemukan posisi hotel dengan goog** maps :)
Akhirnya saya bisa berbaring juga di kasur yang empuk setelah berputar-putar sekitar 1 jam. Dua teman saya ternyata sudah tiba di hotel lebih dahulu 1 jam yang lalu menggunakan Tram 17 yang haltenya ternyata sangat dekat dengan hotel. Sebetulnya saya tidak salah juga menaiki Tram 3. Tapi saya melupakan tentang Tram 17 ini. Mungkin memang saya ditakdirkan untuk tersesat waktu itu.
What a wonderful experience ^_^
![]() |
| Depan Hotel |
It's a naive obsession, but It's my dream.
A dream that must be put into reality someday
Sebetulnya saya sudah merencanakan sejak tahun 2013 untuk mendaftar beasiswa Belanda untuk shortcourse. Apalagi kesempatan seperti ini akan sulit saya dapatkan kalau tidak berusaha mencari cara sendiri.
Di tahun 2014 barulah saya punya semangat baru dan target baru untuk diwujudkan.
***
Dengan berbekal skor hasil ITP-TOEFL yang mencukupi dari standar yang dipersyaratkan, saya pun mendaftar salah satu beasiswa Belanda, yaitu Netherlands Fellowship Program (NFP).
Beasiswa NFP ini diperuntukkan untuk 51 negara, berbeda dengan StuNed yang memang khusus untuk orang Indonesia. Namun terdapat priority group, sekitar 50% untuk wanita, dan 50% untuk Sub-Sahara Afrika. Tapi untuk yang tidak termasuk grup prioritas tentu masih punya peluang :)
Saya kemudian mencari-cari informasi di website Nuffic dan memilih course yang akan saya ikuti. Salah satu unsur penting dalam penilaian beasiswa NFP adalah relevansinya dengan pekerjaan kita saat ini. Akhirnya saya memilih course dari The Hague Academy for Local Governance (THA) dengan durasi kursus selama 2 minggu, tanggal 27 Oktober s.d 7 November 2014.
Setelah mendaftar melalui aplikasi online di website THA (tanpa admission letter), saya diminta langsung untuk mendaftar ke aplikasi Scholarship Online (SOL) milik Nuffic dan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan:
- ID card (passport/national ID card)
- Statement of motivation
- Employment history
- Employer's Statement
- Plan after return
- Relevance for Organization
- Relevance for Country
Seluruh korespondensi proses seleksi dilaksanakan melalui email. Seleksi dari Nuffic dilaksanakan secara bertahap. Lama proses untuk tiap tahapan kurang lebih 1 bulan. Pertama Nuffic akan mengecek eligibility, apakah pelamar beasiswa sudah memenuhi kriteria. Selanjutnya akan dilakukan semacam seleksi pendahuluan dan pihak Nuffic meminta konfirmasi kepada pelamar yang lolos seleksi pendahuluan apakah akan menerima tawaran beasiswa yang akan diberikan. Tahap ini sebetulnya sudah hampir 100% menandakan bahwa kita lolos seleksi. Baru kemudian di tahap terakhir adalah final selection, dan di sini pelamar yang lolos seleksi akan mendapatkan email pemberitahuan dari Nuffic berikut rincian beasiswa yang akan didapatkan.
Pihak THA juga langsung menghubungi lewat email dan mengurus segala macam akomodasi serta informasi-informasi penting yang diperlukan.
And alhamdulillah, I got a ticket to Netherlands :)
Thank you, Nuffic ^_^
***
Update : Sepertinya mulai Agustus 2014, terdapat perubahan mekanisme pendaftaran beasiswa NFP. Informasi lebih lanjut dapat dicek ke website Nuffic.
![]() |
| source |
![]() |
| source |
Setiap pagi, terutama orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta tapi bekerja di Jakarta, mau tidak mau harus berangkat lebih pagi. Mereka yang memanfaatkan public transport, terutama yang menggunakan jasa transportasi KRL (commuter line) tentu harus pandai-pandai mengatur waktunya di pagi hari dengan adanya perjalanan KRL yang sudah terjadwal. Beruntung, jadwal KRL saat ini sudah cukup banyak dibandingkan dengan dulu. But inevitably, you have to run like a crazed, apabila tidak ingin ketinggalan kereta. Because you know what, ketinggalan kereta apabila di depan mata, rasanya menyakitkan :D (self experience). Belum lagi tingkat kompetisinya yang tinggi. Kompetisi di sini maksudnya adalah kompetisi untuk masuk ke dalam gerbong, kompetisi untuk mendapatkan tempat duduk, even kompetisi untuk keluar gerbong. Mungkin bisa digambarkan dengan hiperbola sebagai competition to survive ^_^ You have to be strong and fit indeed.
![]() |
| source |
![]() |
| source |
Di tengah meningkatkan individualisme dan menurunnya empati, ada baiknya tidak meninggalkan interaksi sosial dimanapun. Mungkin akan menjadi sulit, dikarenakan kesibukan, kelelahan, atau hal lainnya. Tapi paling tidak, don't hesitate to speak, smile, or share a good thing with others. Berbicara santai dan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dekat akan memberikan semangat baru.
4. Realistis dan Tetap Bersabar
Patience is the most important thing. Kita perlu realistis dan tidak memaksakan diri untuk harus mencapai seluruh target dan keinginan, karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Misalnya, tidak perlu memaksa untuk harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk ketika kelelahan setelah pulang bekerja. Ada baiknya melibatkan anggota keluarga yang lain untuk mengerjakannya.
"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. "
~ Seno Gumira Ajidarma ~
Membuat kue dan makanan yang extraordinary selalu membuat penasaran. Apalagi setelah 2 kali mencoba membuat kue, hasilnya tidak pernah memuaskan ^_^. Dan dikarenakan minimnya peralatan membuat kue, terutama oven untuk memanggang, maka dari itu saya mencoba mencari resep kue yang dikukus. Selain itu juga mencari resep yang bahannya mudah dicari dan sederhana, daripada harus repot-repot ke toko khusus menjual bahan kue, karena hasilnya belum tentu bagus :D
Setelah browsing resep-resep di internet, akhirnya menemukan resep yang menarik dan sepertinya mudah di sajiansedap.com yang berbahan dasar tape singkong.
Di resep aslinya (sumber), dikemas dalam bentuk Cup Cake Tape Kukus. Tapi pada eksperimen ini saya memakai cetakan berbentuk persegi. Takaran bahan dari resep juga saya kurangi dengan dikira-kira saja. Pengurangan takaran ini sebagai antisipasi apabila hasilnya tidak lagi sesuai ekspektasi :D
Telur yang saya gunakan hanya 2 butir. Untuk susu bubuk saya ganti dengan krimer. Dan saya tambahkan juga sedikit sukade. Sedangkan untuk takaran bahan yang lain, tidak usah diceritakan, karena semuanya hanya dikira-kira saja ^_^
But finally, this is the result (and not so bad)
Well, I'm satisfied enough with the cake. Teksturnya sudah pas dan rasanya juga enak walaupun agak terlalu manis :D
Yeay,,,ini menjadi motivasi untuk membuat kue-kue dan masakan berikutnya.
Here's the recipe from sajiansedap.com:
Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
85 gram margarin
100 gram tape singkong
5 butir telur
85 gram gula pasir
1 sendok teh emulsifier (sp/tbm)
100 gram tepung terigu protein sedang
2 sendok makan susu bubuk
1/2 sendok teh baking powder
Cara membuat:
- Kocok margarin hingga lembut. Tambahkan tape singkong. Kocok rata. Sisihkan.
- Kocok telur, gula pasir, dan emulsifier hingga mengembang. Masukkan tepung terigu, susu bubuk, dan baking powder sedikit-sedikit sambil diayak dan diaduk rata.
- Tuang sedikit adonan telur ke dalam campuran margarin. Tuang kembali ke dalam campuran telur sambil diaduk rata.
- Tuang adonan ke dalam loyang muffin yang dialas cup kertas. Kukus di atas api sedang 10 menit sampai matang.
Talent atau bakat memang sesuatu yang bisa dikatakan sebagai "given", mengalir di darah seseorang sejak lahir, dan bisa jadi merupakan bawaan dan turunan orang tuanya. Bakat adalah sebuah anugerah, apalagi ketika bakat itu positif, disadari, dikembangkan, dan diberdayakan. Karena bakat, passion, dan kesuksesan itu sangat dekat maknanya.
1. Positif
Artinya mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
2. Disadari
Apabila seseorang mengetahui bakat apa saja yang dimiliki. Bakat dapat dilihat sejak anak dapat mengekspresikan dirinya, dan akan semakin terlihat ketika seseorang semakin dewasa dan mempelajari banyak hal.
3. Dikembangkan
Tidak hanya mengetahui saja, tapi kemudian berusaha untuk mengembangkannya dan menjadikannya sebuah keterampilan atau keahlian yang berharga. Fokus belajar dan mengembangkan bakat akan membuat waktu dan energi lebih efektif dan efisien. Karena seseorang yang berbakat dan memang menyukai bidang yang sesuai dengan bakatnya akan lebih bersemangat untuk belajar. Misalnya seseorang yang menyukai linguistik dan memang memiliki kelebihan dalam bidang itu, akan lebih mudah belajar berbagai bahasa. Apalagi ketika memang fokus untuk mendalaminya. Dan tentunya akan menjadi added values yang luar biasa. Jadi tidak ada lagi, Jack of all trades, master of none. Harus ada yang benar-benar fokus kita dalami dan kuasai, selain mempelajari hal lainnya. Dan tidak salah juga apabila menjadi multi tasking dan multi talent.
4. Diberdayakan
Diberdayakan artinya berupaya untuk produktif dengan bakat yang dimiliki. Bekerja sesuai bakat dan minat cenderung menghasilkan sesuatu yang optimal dan produktif. Tentunya akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. And of course, feel no pressure. This is what I call, aktualisasi diri.
Ada beberapa orang yang mungkin melihat suatu bidang atau pekerjaan sebetulnya menarik atau melihat peluang kesuksesan di dalamnya. Tapi ada 1 kendala, yaitu tidak adanya bakat yang mendukung. Dan tidak semua orang dianugerahi bakat terhadap sesuatu yang diminatinya. Atau bisa dikatakan, punya minat tapi tidak punya bakat :D
Well, memiliki minat tapi tidak memiliki bakat tentunya membutuhkan extra effort dan hard work untuk menguasainya. Tapi bukannya tidak mungkin. Yang diperlukan di dalamnya tentu adalah kemauan yang kuat, semangat, dan konsistensi dalam belajar. Tidak mudah merasa putus asa atau menyerah. Then just start to do and try it.
Misalnya saja, mungkin saya tidak punya bakat untuk menjahit, tapi saya punya mimpi dan peluang di sana. Jadi saya harus mencoba memulai. Hasil pertama mungkin jauh dari sempurna, and maybe frustating karena kesulitan yang dihadapi. Belum lagi ketika mendapatkan input yang negatif dan kurang mendukung dari luar, akan mudah menurunkan semangat. But it's about interest, determination, and dreams. Harus ada keyakinan bahwa dengan banyak belajar, mencoba, dan berlatih akan bisa melampaui prestasi orang-orang yang berbakat.
Artikel menarik dari Wikihow.com tentang How to Find a Talent (source) yang dapat menjadi referensi.
1. Think about what you love to do. Hal apa yang dengan senang hati kita lakukan tanpa disuruh dan hal apa yang paling membuat kita antusias.
2. Play. Bereksperimen, eksplorasi, dan mencoba hal baru yang menyenangkan hati.
3. Try taking some personality tests. Tes ini paling tidak dapat memberikan sedikit gambaran tentang orientasi dan minat kita.
4. Learn about your learning style. You can find online quizzes for that, too. Major learning styles are
visual, auditory, reading/writing, and tactile/kinesthetic.
5. Notice what people tell you about yourself. Do they
notice that you light up when you explain something? Does everybody seem
to compliment you on your writing? Your physical coordination?
6. Consider your interests. What sorts of things do you
like to read about, write about, or talk about? What shows do you watch
on television? What magazine and newspaper articles catch your eye?
7. Notice what you're not good at, too. What seems
always to be a struggle? What makes you feel awkward or out of place?
For instance, some people are great talkers but hate writing; for
others, it's the other way around. That's not to say you can't develop
skills and strategies in areas that are not your forte, but if you
choose to do so, you will know that they are not.
8. Keep a journal or notebook of some sort. It doesn't have to be fancy or formal. You could keep it on the computer or even use voice recordings, if you prefer. Freewriting
from time to time is one good way to get at what's on your mind. If
writing isn't for you, try drawing pictures, "mind-mapping", or making
notes some other way that suits you. Regardless of the method, capture
your thoughts now and then. It can help you to spot patterns and themes
within your life.
9. Practice. Once you find something you love to do, do
more of it. You will improve your skills and refine your technique this
way. You will also discover the depths of your talent, whether it was
more a passing phase. Even if the interest turns out to be temporary,
you may notice what interested you about a particular
10. Share your talent with others. It's okay to practice
by yourself, but at some point, you should nurture your talent by
finding a teacher, even if it's just somebody else with more experience
at something who can give you advice. Having an audience (even a small
one) is, in many cases, equally important.
11. Use your talent. Make the world a better place, or just show off. Consider making a career of it, or just a hobby. Or if you just want to make it useful just for yourself.
![]() |
| source : http://brucemctague.com |








