- Sarapan sehat dan secukupnya, untuk memberikan energi sebelum melakukan aktivitas.
- Berdoa, sebagai wujud rasa syukur dan harapan agar hari yang akan dilalui berkah dan memberikan manfaat. Akan lebih baik kalau menyempatkan diri melaksanakan sholat Dhuha.
- A cup of hot tea (or coffee), akan memberikan rasa hangat dan secara tidak langsung dapat menjadi mood booster yang cukup baik.
- Mendengarkan musik favorit, karena musik dipercaya memberikan kebahagiaan tersendiri dan mampu melepaskan stres dan penat.
- Menetapkan target hari ini, sebagai a good starting point dalam mengawali hari. Target yang jelas akan memberikan arah yang jelas tentang aktivitas setiap harinya dan membuat kita lebih produktif.
- A smile, as a form of happiness :)
![]() |
| Average percentage of priority activities |
![]() |
| Average percentage of energy wasted |
It's a naive obsession, but It's my dream.
A dream that must be put into reality someday
Sebetulnya saya sudah merencanakan sejak tahun 2013 untuk mendaftar beasiswa Belanda untuk shortcourse. Apalagi kesempatan seperti ini akan sulit saya dapatkan kalau tidak berusaha mencari cara sendiri.
Di tahun 2014 barulah saya punya semangat baru dan target baru untuk diwujudkan.
***
Dengan berbekal skor hasil ITP-TOEFL yang mencukupi dari standar yang dipersyaratkan, saya pun mendaftar salah satu beasiswa Belanda, yaitu Netherlands Fellowship Program (NFP).
Beasiswa NFP ini diperuntukkan untuk 51 negara, berbeda dengan StuNed yang memang khusus untuk orang Indonesia. Namun terdapat priority group, sekitar 50% untuk wanita, dan 50% untuk Sub-Sahara Afrika. Tapi untuk yang tidak termasuk grup prioritas tentu masih punya peluang :)
Saya kemudian mencari-cari informasi di website Nuffic dan memilih course yang akan saya ikuti. Salah satu unsur penting dalam penilaian beasiswa NFP adalah relevansinya dengan pekerjaan kita saat ini. Akhirnya saya memilih course dari The Hague Academy for Local Governance (THA) dengan durasi kursus selama 2 minggu, tanggal 27 Oktober s.d 7 November 2014.
Setelah mendaftar melalui aplikasi online di website THA (tanpa admission letter), saya diminta langsung untuk mendaftar ke aplikasi Scholarship Online (SOL) milik Nuffic dan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan:
- ID card (passport/national ID card)
- Statement of motivation
- Employment history
- Employer's Statement
- Plan after return
- Relevance for Organization
- Relevance for Country
Seluruh korespondensi proses seleksi dilaksanakan melalui email. Seleksi dari Nuffic dilaksanakan secara bertahap. Lama proses untuk tiap tahapan kurang lebih 1 bulan. Pertama Nuffic akan mengecek eligibility, apakah pelamar beasiswa sudah memenuhi kriteria. Selanjutnya akan dilakukan semacam seleksi pendahuluan dan pihak Nuffic meminta konfirmasi kepada pelamar yang lolos seleksi pendahuluan apakah akan menerima tawaran beasiswa yang akan diberikan. Tahap ini sebetulnya sudah hampir 100% menandakan bahwa kita lolos seleksi. Baru kemudian di tahap terakhir adalah final selection, dan di sini pelamar yang lolos seleksi akan mendapatkan email pemberitahuan dari Nuffic berikut rincian beasiswa yang akan didapatkan.
Pihak THA juga langsung menghubungi lewat email dan mengurus segala macam akomodasi serta informasi-informasi penting yang diperlukan.
And alhamdulillah, I got a ticket to Netherlands :)
Thank you, Nuffic ^_^
***
Update : Sepertinya mulai Agustus 2014, terdapat perubahan mekanisme pendaftaran beasiswa NFP. Informasi lebih lanjut dapat dicek ke website Nuffic.
![]() |
| source |
![]() |
| source |
Setiap pagi, terutama orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta tapi bekerja di Jakarta, mau tidak mau harus berangkat lebih pagi. Mereka yang memanfaatkan public transport, terutama yang menggunakan jasa transportasi KRL (commuter line) tentu harus pandai-pandai mengatur waktunya di pagi hari dengan adanya perjalanan KRL yang sudah terjadwal. Beruntung, jadwal KRL saat ini sudah cukup banyak dibandingkan dengan dulu. But inevitably, you have to run like a crazed, apabila tidak ingin ketinggalan kereta. Because you know what, ketinggalan kereta apabila di depan mata, rasanya menyakitkan :D (self experience). Belum lagi tingkat kompetisinya yang tinggi. Kompetisi di sini maksudnya adalah kompetisi untuk masuk ke dalam gerbong, kompetisi untuk mendapatkan tempat duduk, even kompetisi untuk keluar gerbong. Mungkin bisa digambarkan dengan hiperbola sebagai competition to survive ^_^ You have to be strong and fit indeed.
![]() |
| source |
![]() |
| source |
Di tengah meningkatkan individualisme dan menurunnya empati, ada baiknya tidak meninggalkan interaksi sosial dimanapun. Mungkin akan menjadi sulit, dikarenakan kesibukan, kelelahan, atau hal lainnya. Tapi paling tidak, don't hesitate to speak, smile, or share a good thing with others. Berbicara santai dan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dekat akan memberikan semangat baru.
4. Realistis dan Tetap Bersabar
Patience is the most important thing. Kita perlu realistis dan tidak memaksakan diri untuk harus mencapai seluruh target dan keinginan, karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Misalnya, tidak perlu memaksa untuk harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk ketika kelelahan setelah pulang bekerja. Ada baiknya melibatkan anggota keluarga yang lain untuk mengerjakannya.
"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. "
~ Seno Gumira Ajidarma ~
Talent atau bakat memang sesuatu yang bisa dikatakan sebagai "given", mengalir di darah seseorang sejak lahir, dan bisa jadi merupakan bawaan dan turunan orang tuanya. Bakat adalah sebuah anugerah, apalagi ketika bakat itu positif, disadari, dikembangkan, dan diberdayakan. Karena bakat, passion, dan kesuksesan itu sangat dekat maknanya.
1. Positif
Artinya mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
2. Disadari
Apabila seseorang mengetahui bakat apa saja yang dimiliki. Bakat dapat dilihat sejak anak dapat mengekspresikan dirinya, dan akan semakin terlihat ketika seseorang semakin dewasa dan mempelajari banyak hal.
3. Dikembangkan
Tidak hanya mengetahui saja, tapi kemudian berusaha untuk mengembangkannya dan menjadikannya sebuah keterampilan atau keahlian yang berharga. Fokus belajar dan mengembangkan bakat akan membuat waktu dan energi lebih efektif dan efisien. Karena seseorang yang berbakat dan memang menyukai bidang yang sesuai dengan bakatnya akan lebih bersemangat untuk belajar. Misalnya seseorang yang menyukai linguistik dan memang memiliki kelebihan dalam bidang itu, akan lebih mudah belajar berbagai bahasa. Apalagi ketika memang fokus untuk mendalaminya. Dan tentunya akan menjadi added values yang luar biasa. Jadi tidak ada lagi, Jack of all trades, master of none. Harus ada yang benar-benar fokus kita dalami dan kuasai, selain mempelajari hal lainnya. Dan tidak salah juga apabila menjadi multi tasking dan multi talent.
4. Diberdayakan
Diberdayakan artinya berupaya untuk produktif dengan bakat yang dimiliki. Bekerja sesuai bakat dan minat cenderung menghasilkan sesuatu yang optimal dan produktif. Tentunya akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. And of course, feel no pressure. This is what I call, aktualisasi diri.
Ada beberapa orang yang mungkin melihat suatu bidang atau pekerjaan sebetulnya menarik atau melihat peluang kesuksesan di dalamnya. Tapi ada 1 kendala, yaitu tidak adanya bakat yang mendukung. Dan tidak semua orang dianugerahi bakat terhadap sesuatu yang diminatinya. Atau bisa dikatakan, punya minat tapi tidak punya bakat :D
Well, memiliki minat tapi tidak memiliki bakat tentunya membutuhkan extra effort dan hard work untuk menguasainya. Tapi bukannya tidak mungkin. Yang diperlukan di dalamnya tentu adalah kemauan yang kuat, semangat, dan konsistensi dalam belajar. Tidak mudah merasa putus asa atau menyerah. Then just start to do and try it.
Misalnya saja, mungkin saya tidak punya bakat untuk menjahit, tapi saya punya mimpi dan peluang di sana. Jadi saya harus mencoba memulai. Hasil pertama mungkin jauh dari sempurna, and maybe frustating karena kesulitan yang dihadapi. Belum lagi ketika mendapatkan input yang negatif dan kurang mendukung dari luar, akan mudah menurunkan semangat. But it's about interest, determination, and dreams. Harus ada keyakinan bahwa dengan banyak belajar, mencoba, dan berlatih akan bisa melampaui prestasi orang-orang yang berbakat.
Artikel menarik dari Wikihow.com tentang How to Find a Talent (source) yang dapat menjadi referensi.
1. Think about what you love to do. Hal apa yang dengan senang hati kita lakukan tanpa disuruh dan hal apa yang paling membuat kita antusias.
2. Play. Bereksperimen, eksplorasi, dan mencoba hal baru yang menyenangkan hati.
3. Try taking some personality tests. Tes ini paling tidak dapat memberikan sedikit gambaran tentang orientasi dan minat kita.
4. Learn about your learning style. You can find online quizzes for that, too. Major learning styles are
visual, auditory, reading/writing, and tactile/kinesthetic.
5. Notice what people tell you about yourself. Do they
notice that you light up when you explain something? Does everybody seem
to compliment you on your writing? Your physical coordination?
6. Consider your interests. What sorts of things do you
like to read about, write about, or talk about? What shows do you watch
on television? What magazine and newspaper articles catch your eye?
7. Notice what you're not good at, too. What seems
always to be a struggle? What makes you feel awkward or out of place?
For instance, some people are great talkers but hate writing; for
others, it's the other way around. That's not to say you can't develop
skills and strategies in areas that are not your forte, but if you
choose to do so, you will know that they are not.
8. Keep a journal or notebook of some sort. It doesn't have to be fancy or formal. You could keep it on the computer or even use voice recordings, if you prefer. Freewriting
from time to time is one good way to get at what's on your mind. If
writing isn't for you, try drawing pictures, "mind-mapping", or making
notes some other way that suits you. Regardless of the method, capture
your thoughts now and then. It can help you to spot patterns and themes
within your life.
9. Practice. Once you find something you love to do, do
more of it. You will improve your skills and refine your technique this
way. You will also discover the depths of your talent, whether it was
more a passing phase. Even if the interest turns out to be temporary,
you may notice what interested you about a particular
10. Share your talent with others. It's okay to practice
by yourself, but at some point, you should nurture your talent by
finding a teacher, even if it's just somebody else with more experience
at something who can give you advice. Having an audience (even a small
one) is, in many cases, equally important.
11. Use your talent. Make the world a better place, or just show off. Consider making a career of it, or just a hobby. Or if you just want to make it useful just for yourself.
![]() |
| source : http://brucemctague.com |
| source : growingupwithbea.blogspot.com |
"Children are precious gifts sent from heaven"
Ibu, karir, dan keluarga mungkin selalu menjadi sebuah dilema ketika karir atau pekerjaan menyita lebih banyak waktu daripada keberadaan ibu di rumah, terutama yang bekerja di kota-kota besar, dimana rasa-rasanya hampir 75% waktu dihabiskan di jalan dan di kantor. Namun 35% sisanya bahkan sepenuhnya mungkin tidak dapat diberikan untuk keluarga, karena harus mengurusi pekerjaan rumah tangga ataupun karena sudah merasa terlalu lelah.
Sementara quality time yang menurut orang-orang harus dioptimalkan untuk mengganti "ketiadaan" peran ibu pada hari kerja, khususnya quality time di hari libur, sebetulnya tidaklah cukup.
Wondering why? Karena akibat dilema itu anak secara tidak langsung akan selalu menjadi ’korban’, terutama anak-anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan figur ibunya. Apalagi ditambah permasalahan lain, ketika ibu harus kerepotan kesana-kemari untuk mencari pengasuh, bahkan sampai terpaksa menitipkan ke day care atau ke neneknya. Mencari pengasuh saat ini juga menjadi permasalahan yang memusingkan bagi ibu karena di samping semakin sulit mencari pengasuh dari kampung, saat ini pengasuh dan asisten rumah tangga bisa dikatakan sudah memiliki bargaining position yg tinggi :), sehingga beberapa ibu rela membayar lebih mahal. Mencari pengasuh atau asisten rumah tangga yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan tulus pun mungkin juga semakin sulit. Menitipkan anak kepada nenek-kakeknya sebetulnya juga bukan keputusan yang bijaksana.
Anak adalah harta paling berharga dan merupakan titipan Tuhan. Satu pertanyaan yang layak menjadi renungan adalah ketika kitapun menjaga berlian, perhiasan,ataupun uang sebaik mungkin dan tidak akan menitipkannya kepada orang lain, apakah anak tidak lebih berharga dari itu sehingga kita tinggalkan dan dititipkan pada orang lain?
Beberapa ibu mungkin dengan terpaksa harus bekerja dengan keras untuk berbagai alasan. Dan semua ibu pasti sebetulnya tidak rela harus meninggalkan anaknya untuk bekerja. Tapi selalu ada jalan yang terbaik yang harus dipilih dan itu menjadi prioritas yang berbeda untuk masing-masing ibu. Life is full of choices, then take the best one. Sometimes the most bitter thing is the best.
Mungkin juga tidak ada pilihan yang benar-benar baik, tanpa ada pengorbanan dan sisi negatifnya. Full-time mom bisa jadi juga bukan pilihan yang terbaik, karena mungkin ada konsekuensi lain yang harus ditanggung, misalnya dari sisi ekonomi.
Tapi selalu ada pilihan yang mempunyai banyak sisi positif dibanding negatif atau mudharat-nya. Wanita yang tetap mandiri dari sisi ekonomi akan lebih baik, tapi waktu untuk keluarga memiliki porsi yang lebih banyak. Then we need to think, sumber penghasilan yang seperti apa yang bisa memenuhi itu.
The only two days in a week definitely cannot replace 5 days of emptiness.
Because mother's love and existence cannot be replaced by anything.
| source : quotesnsmiles.com |
A dream doesn't come to reality through magic, It takes sweat, determination, and hard work
Mimpi,,bukan mimpi yang menjadi bunga tidur, tapi mimpi yang lebih kepada cita-cita, tujuan, atau malah bisa jadi obsesi. Semua orang tentu punya mimpi. Tapi apa sebetulnya esensi dari mimpi itu, apakah harus hal yang muluk-muluk atau susah sekali diraih? Bisa jadi sih. Tapi tidak sepenuhnya benar.
Menurut saya mimpi itu tidak harus angan-angan yang tidak jelas apakah dapat direalisasikan atau cita-cita jangka panjang, dan bisa jadi mimpi mudah berubah karena dipengaruhi kondisi dan perjalanan hidup kita.
Mimpi dapat menjadi motivasi yang kuat bagi seseorang untuk mewujudkannya. Dan hal ini juga yang harus menjadi motivasi untuk mendefinisikan lagi mimpi-mimpi secara lebih realistis.
Ketika akan masuk bangku kuliah dan ketika lulus yang tertanam di benak anak muda dan orang tua (mungkin kebanyakan berpikiran yang sama), adalah kuliah yang tinggi dengan jurusan yang populer dan motivasinya adalah dapat segera bekerja setelah lulus, untuk kemudian menjadi orang sukses (atau bisa dikatakan secara ekonomi dimudahkan). Ya,, apabila pada akhirnya bisa kuliah di universitas negeri ternama, jurusan yang populer, lulus dengan nilai memuaskan, setelah itu bekerja di ibukota dan di tempat yang menurut pandangan orang awam tentu keren :D Harus bersyukur dengan itu semua.
Semakin dewasa, apalagi ketika sudah berumah tangga akan semakin banyak pula memberikan pelajaran hidup. Banyak pencapaian yang diraih itu bisa jadi tidak seluruhnya merupakan mimpi yang sesungguhnya. Mimpi juga tidak boleh berhenti sampai di sini. Sebagai manusia biasa, banyak hal di masa lalu yang mungkin disesali, tapi tentu tidak boleh terhanyut dalam penyesalan itu, karena penyesalan dekat sekali dengan rasa tidak ikhlas dan tidak bersyukur. Jadi kalau jaman sekarang banyak dikatakan,,kita harus move on :D
Menjadi orang sukses pasti menjadi mimpi banyak orang. Tapi menjadi sukses tidak berarti harus terpaksa melakukan hal-hal yang tidak kita sukai atau bekerja kantoran dengan gaji menjanjikan dan jaminan di hari tua yang sudah jelas. Bagaimana jika pekerjaan ternyata tidak sesuai dengan passion, dan yang pada akhirnya hanya menimbulkan dilema, tekanan, dan ketidaknyamanan dalam hidup. Jika begitu, kita harus berani mendefinisikan mimpi secara lebih tepat, karena mimpi yang berhasil kita raih akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Untuk apa hidup dengan kesuksesan tapi ternyata itu harus dijalani dengan banyak pengorbanan yang seharusnya dapat diminimalisasi ketika kita berusaha mewujudkan mimpi kita yang sebenarnya. Dan kesuksesan itu not merely sukses di karir, tapi sukses dalam hidup as a whole. Kebahagiaan seharusnya menjadi mimpi yang sesungguhnya.
Mendefinisikan kembali mimpi untuk sukses bisa dimulai dengan memikirkan hal yang kita sukai. Start to do something you like, work with your passion. Bekerja sesuai passion cenderung membuat kita menjadi lebih puas dan bahagia dalam mengerjakannya, walaupun harus dibayar dengan rasa capek dan usaha yang keras.
Passion sangat dekat dengan bakat yang kita miliki, hobi dan minat, dan kesesuaian dengan kondisi yang kita alami sehari-hari.
Beberapa orang memang ada yang mendefinisikan passion dengan karir, aktualisasi diri, kemandirian, terutama yang merasa sudah berpendidikan cukup tinggi. Tapi tentu banyak juga yang dikorbankan. Memang tidak dapat dihindari bahwa dalam hidup memang ada positif ada negatifnya.
Seandainya boleh flash back ke masa lalu mungkin banyak yang disesali karena tidak menekuni bidang yang sesuai dengan bakat, hobi, dan minat, atau hal-hal yang bisa menjadi potensi untuk bekerja mandiri dan lebih berorientasi pada skill. Tapi tidak ada kata terlambat dan lagi-lagi tidak boleh terlarut dalam penyesalan. Mulailah dari sekarang dan raih mimpi agar menjadi lebih bahagia, mungkin tidak hanya di dunia, tapi di akhirat. Dan tanamkan motivasi ini pada diri anak kita nanti, kembangkan bakat dan hobinya, serta membekalinya dengan ketrampilan khusus yang dapat menjadi potensi baginya ketika sudah dewasa nanti. Sehingga peluang sukses tidak akan hanya menjadi pekerja kantoran dan terikat dengan banyak rules.










