| source : growingupwithbea.blogspot.com |
"Children are precious gifts sent from heaven"
Ibu, karir, dan keluarga mungkin selalu menjadi sebuah dilema ketika karir atau pekerjaan menyita lebih banyak waktu daripada keberadaan ibu di rumah, terutama yang bekerja di kota-kota besar, dimana rasa-rasanya hampir 75% waktu dihabiskan di jalan dan di kantor. Namun 35% sisanya bahkan sepenuhnya mungkin tidak dapat diberikan untuk keluarga, karena harus mengurusi pekerjaan rumah tangga ataupun karena sudah merasa terlalu lelah.
Sementara quality time yang menurut orang-orang harus dioptimalkan untuk mengganti "ketiadaan" peran ibu pada hari kerja, khususnya quality time di hari libur, sebetulnya tidaklah cukup.
Wondering why? Karena akibat dilema itu anak secara tidak langsung akan selalu menjadi ’korban’, terutama anak-anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan figur ibunya. Apalagi ditambah permasalahan lain, ketika ibu harus kerepotan kesana-kemari untuk mencari pengasuh, bahkan sampai terpaksa menitipkan ke day care atau ke neneknya. Mencari pengasuh saat ini juga menjadi permasalahan yang memusingkan bagi ibu karena di samping semakin sulit mencari pengasuh dari kampung, saat ini pengasuh dan asisten rumah tangga bisa dikatakan sudah memiliki bargaining position yg tinggi :), sehingga beberapa ibu rela membayar lebih mahal. Mencari pengasuh atau asisten rumah tangga yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan tulus pun mungkin juga semakin sulit. Menitipkan anak kepada nenek-kakeknya sebetulnya juga bukan keputusan yang bijaksana.
Anak adalah harta paling berharga dan merupakan titipan Tuhan. Satu pertanyaan yang layak menjadi renungan adalah ketika kitapun menjaga berlian, perhiasan,ataupun uang sebaik mungkin dan tidak akan menitipkannya kepada orang lain, apakah anak tidak lebih berharga dari itu sehingga kita tinggalkan dan dititipkan pada orang lain?
Beberapa ibu mungkin dengan terpaksa harus bekerja dengan keras untuk berbagai alasan. Dan semua ibu pasti sebetulnya tidak rela harus meninggalkan anaknya untuk bekerja. Tapi selalu ada jalan yang terbaik yang harus dipilih dan itu menjadi prioritas yang berbeda untuk masing-masing ibu. Life is full of choices, then take the best one. Sometimes the most bitter thing is the best.
Mungkin juga tidak ada pilihan yang benar-benar baik, tanpa ada pengorbanan dan sisi negatifnya. Full-time mom bisa jadi juga bukan pilihan yang terbaik, karena mungkin ada konsekuensi lain yang harus ditanggung, misalnya dari sisi ekonomi.
Tapi selalu ada pilihan yang mempunyai banyak sisi positif dibanding negatif atau mudharat-nya. Wanita yang tetap mandiri dari sisi ekonomi akan lebih baik, tapi waktu untuk keluarga memiliki porsi yang lebih banyak. Then we need to think, sumber penghasilan yang seperti apa yang bisa memenuhi itu.
The only two days in a week definitely cannot replace 5 days of emptiness.
Because mother's love and existence cannot be replaced by anything.
