Cake Tape Kukus, Sebuah Eksperimen

Membuat kue dan makanan yang extraordinary selalu membuat penasaran. Apalagi setelah 2 kali mencoba membuat kue, hasilnya tidak pernah memuaskan ^_^. Dan dikarenakan minimnya peralatan membuat kue, terutama oven untuk memanggang, maka dari itu saya mencoba mencari resep kue yang dikukus. Selain itu juga mencari resep yang bahannya mudah dicari dan sederhana, daripada harus repot-repot ke toko khusus menjual bahan kue, karena hasilnya belum tentu bagus :D

Setelah browsing resep-resep di internet, akhirnya menemukan resep yang menarik dan sepertinya mudah di sajiansedap.com yang berbahan dasar tape singkong.
Di resep aslinya (sumber), dikemas dalam bentuk Cup Cake Tape Kukus. Tapi pada eksperimen ini saya memakai cetakan berbentuk persegi. Takaran bahan dari resep juga saya kurangi dengan dikira-kira saja. Pengurangan takaran ini sebagai antisipasi apabila hasilnya tidak lagi sesuai ekspektasi  :D
Telur yang saya gunakan hanya 2 butir. Untuk susu bubuk saya ganti dengan krimer. Dan saya tambahkan juga sedikit sukade. Sedangkan untuk takaran bahan yang lain, tidak usah diceritakan, karena semuanya hanya dikira-kira saja ^_^

But finally, this is the result (and not so bad)


Well, I'm satisfied enough with the cake. Teksturnya sudah pas dan rasanya juga enak walaupun agak terlalu manis :D  
Yeay,,,ini menjadi motivasi untuk membuat kue-kue dan masakan berikutnya.







Here's the recipe from sajiansedap.com:

Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
85 gram margarin
100 gram tape singkong
5 butir telur
85 gram gula pasir
1 sendok teh emulsifier (sp/tbm)
100 gram tepung terigu protein sedang
2 sendok makan susu bubuk
1/2 sendok teh baking powder


Cara membuat:

  1. Kocok margarin hingga lembut. Tambahkan tape singkong. Kocok rata. Sisihkan.
  2. Kocok telur, gula pasir, dan emulsifier hingga mengembang. Masukkan tepung terigu, susu bubuk, dan baking powder sedikit-sedikit sambil diayak dan diaduk rata.
  3. Tuang sedikit adonan telur ke dalam campuran margarin. Tuang kembali ke  dalam campuran telur sambil diaduk rata.
  4. Tuang adonan ke dalam loyang muffin yang dialas cup kertas. Kukus di atas api sedang 10 menit sampai matang.

I'm Not Talented, but I Want to Try

Talent atau bakat memang sesuatu yang bisa dikatakan sebagai "given", mengalir di darah seseorang sejak lahir, dan bisa jadi merupakan bawaan dan turunan orang tuanya. Bakat adalah sebuah anugerah, apalagi ketika bakat itu positif, disadari, dikembangkan, dan diberdayakan. Karena bakat, passion, dan kesuksesan itu sangat dekat maknanya.

1. Positif
    Artinya mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

2. Disadari
    Apabila seseorang mengetahui bakat apa saja yang dimiliki. Bakat dapat dilihat sejak anak dapat mengekspresikan dirinya, dan akan semakin terlihat ketika seseorang semakin dewasa dan mempelajari banyak hal.

3. Dikembangkan 
    Tidak hanya mengetahui saja, tapi kemudian berusaha untuk mengembangkannya dan menjadikannya sebuah keterampilan atau keahlian yang berharga. Fokus belajar dan mengembangkan bakat akan membuat waktu dan energi lebih efektif dan efisien. Karena seseorang yang berbakat dan memang menyukai bidang yang sesuai dengan bakatnya akan lebih bersemangat untuk belajar. Misalnya seseorang yang menyukai linguistik dan memang memiliki kelebihan dalam bidang itu, akan lebih mudah belajar berbagai bahasa. Apalagi ketika memang fokus untuk mendalaminya. Dan tentunya akan menjadi added values yang luar biasa. Jadi tidak ada lagi, Jack of all trades, master of none. Harus ada yang benar-benar fokus kita dalami dan kuasai, selain mempelajari hal lainnya. Dan tidak salah juga apabila menjadi multi tasking dan multi talent.

4. Diberdayakan
    Diberdayakan artinya berupaya untuk produktif dengan bakat yang dimiliki. Bekerja sesuai bakat dan minat cenderung menghasilkan sesuatu yang optimal dan produktif. Tentunya akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. And of course, feel no pressure. This is what I call, aktualisasi diri. 

Ada beberapa orang yang mungkin melihat suatu bidang atau pekerjaan sebetulnya menarik atau melihat peluang kesuksesan di dalamnya. Tapi ada 1 kendala, yaitu tidak adanya bakat yang mendukung. Dan tidak semua orang dianugerahi bakat terhadap sesuatu yang diminatinya. Atau bisa dikatakan, punya minat tapi tidak punya bakat :D

Well, memiliki minat tapi tidak memiliki bakat tentunya membutuhkan extra effort dan hard work untuk menguasainya. Tapi bukannya tidak mungkin. Yang diperlukan di dalamnya tentu adalah kemauan yang kuat, semangat, dan konsistensi dalam belajar. Tidak mudah merasa putus asa atau menyerah. Then just start to do and try it.
Misalnya saja, mungkin saya tidak punya bakat untuk menjahit, tapi saya punya mimpi dan peluang di sana. Jadi saya harus mencoba memulai. Hasil pertama mungkin jauh dari sempurna, and maybe frustating karena kesulitan yang dihadapi. Belum lagi ketika mendapatkan input yang negatif dan kurang mendukung dari luar, akan mudah menurunkan semangat. But it's about interest, determination, and dreams. Harus ada keyakinan bahwa dengan banyak belajar, mencoba, dan berlatih akan bisa melampaui prestasi orang-orang yang berbakat.

Artikel menarik dari Wikihow.com tentang How to Find a Talent (source) yang dapat menjadi referensi.

1. Think about what you love to do. Hal apa yang dengan senang hati kita lakukan tanpa disuruh dan hal apa yang paling membuat kita antusias.

2. Play. Bereksperimen, eksplorasi, dan mencoba hal baru yang menyenangkan hati.

3. Try taking some personality tests. Tes ini paling tidak dapat memberikan sedikit gambaran tentang orientasi dan minat kita.

4. Learn about your learning style. You can find online quizzes for that, too. Major learning styles are visual, auditory, reading/writing, and tactile/kinesthetic. 

5. Notice what people tell you about yourself. Do they notice that you light up when you explain something? Does everybody seem to compliment you on your writing? Your physical coordination?  

6.  Consider your interests. What sorts of things do you like to read about, write about, or talk about? What shows do you watch on television? What magazine and newspaper articles catch your eye?

7. Notice what you're not good at, too. What seems always to be a struggle? What makes you feel awkward or out of place? For instance, some people are great talkers but hate writing; for others, it's the other way around. That's not to say you can't develop skills and strategies in areas that are not your forte, but if you choose to do so, you will know that they are not.

8. Keep a journal or notebook of some sort. It doesn't have to be fancy or formal. You could keep it on the computer or even use voice recordings, if you prefer. Freewriting from time to time is one good way to get at what's on your mind. If writing isn't for you, try drawing pictures, "mind-mapping", or making notes some other way that suits you. Regardless of the method, capture your thoughts now and then. It can help you to spot patterns and themes within your life.

9. Practice. Once you find something you love to do, do more of it. You will improve your skills and refine your technique this way. You will also discover the depths of your talent, whether it was more a passing phase. Even if the interest turns out to be temporary, you may notice what interested you about a particular 

10. Share your talent with others. It's okay to practice by yourself, but at some point, you should nurture your talent by finding a teacher, even if it's just somebody else with more experience at something who can give you advice. Having an audience (even a small one) is, in many cases, equally important.

11. Use your talent. Make the world a better place, or just show off. Consider making a career of it, or just a hobby. Or if you just want to make it useful just for yourself.  



source : http://brucemctague.com

Maybe you're not talented, but just try.
Feel your determination and make your dreams come true

The Pinky is Sewing Made Easy

My new best pal - The Pinky Singer :D
source : singerco.com

If we want to raise another true happiness, then grab and struggle for it.

Jadi apa hubungannya antara kebahagiaan dengan The Pinky di atas? The Pinky gives many inspirations and pleasures. Ternyata menjahit dan bisa menghasilkan sesuatu itu rasanya memuaskan dan menyenangkan. Paling tidak itu menurut saya. Dengan detil dan kompleksitasnya menjadi kesenangan tersendiri, walaupun harus rela mencuri-curi waktu untuk mengerjakannya. Keterampilan adalah aset yang luar biasa. Akhirnya diputuskanlah untuk otodidak menjahit.  Mungkin bisa dikatakan sedikit terlambat, karena dulu banyak kesempatan untuk belajar. Tapi sekali lagi, tidak ada kata terlambat dan tidak boleh menyesal :) Let's do it!

Beginner sewing tip #1: Start with the right machine ^_^

Tip tersebut menurut saya benar. Untuk belajar menjahit tentu perlu mesin jahit. Bukan bermaksud promosi, tapi pilihan saya jatuh pada The Pinky dengan pertimbangan bahwa merknya sudah cukup terpercaya, spare part mudah dicari, dan ada garansi 1 tahun. Di tempat saya membeli juga diberikan servis free delivery and training. Jadi sebagai pemula saya cukup senang bisa diperkenalkan cara mengoperasikannya. Harga cukup mahal, namun ini bagian dari investasi. Hopefully :) Untuk spesifikasi, dll bisa dicek ke http://www.singerco.com/products/2237/3223-simple#type-features. Kesan sampai dengan saat ini, cukup memuaskan.Bukan berniat promosi, tapi based on my experience :)

Saya tidak mempunyai rencana untuk kursus menjahit, tapi saya berusaha nekad untuk otodidak. Selain karena tidak ada waktu, kursus menjahit mungkin cukup costly. Bekal saya untuk otodidak adalah hasil browsing internet dan 2 buku ini :)



So let's make things and keep learning



Mother’s Dillema? Mencari Jalan yang Terbaik

source : growingupwithbea.blogspot.com
"Children are precious gifts sent from heaven"

Anak adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan. Dan mungkin lebih berharga dari apapun juga, karena di dalam tubuhnya mengalir darah dan gen orang tuanya. Anak juga menjadi harapan terbesar orang tua untuk meneruskan keturunan yang baik dan mulia.

Ibu, karir, dan keluarga mungkin selalu menjadi sebuah dilema ketika karir atau pekerjaan menyita lebih banyak waktu daripada keberadaan ibu di rumah, terutama yang bekerja di kota-kota besar, dimana rasa-rasanya hampir 75% waktu dihabiskan di jalan dan di kantor. Namun 35% sisanya bahkan sepenuhnya mungkin tidak dapat diberikan untuk keluarga, karena harus mengurusi pekerjaan rumah tangga ataupun karena sudah merasa terlalu lelah.

Sementara quality time yang menurut orang-orang harus dioptimalkan untuk mengganti "ketiadaan" peran ibu pada hari kerja, khususnya quality time di hari libur, sebetulnya tidaklah cukup.

Wondering why? Karena akibat dilema itu anak secara tidak langsung akan selalu menjadi ’korban’, terutama anak-anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan figur ibunya. Apalagi ditambah permasalahan lain, ketika ibu harus kerepotan kesana-kemari untuk mencari pengasuh, bahkan sampai terpaksa menitipkan ke day care atau ke neneknya. Mencari pengasuh saat ini juga menjadi permasalahan yang memusingkan bagi ibu karena di samping semakin sulit mencari pengasuh dari kampung, saat ini pengasuh dan asisten rumah tangga bisa dikatakan sudah memiliki bargaining position yg tinggi :), sehingga beberapa ibu rela membayar lebih mahal. Mencari pengasuh atau asisten rumah tangga yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan tulus pun mungkin juga semakin sulit. Menitipkan anak kepada nenek-kakeknya sebetulnya juga bukan keputusan yang bijaksana.

Anak adalah harta paling berharga dan merupakan titipan Tuhan. Satu pertanyaan yang layak menjadi renungan adalah ketika kitapun menjaga berlian, perhiasan,ataupun uang sebaik mungkin dan tidak akan menitipkannya kepada orang lain, apakah anak tidak lebih berharga dari itu sehingga kita tinggalkan dan dititipkan pada orang lain?

Beberapa ibu mungkin dengan terpaksa harus bekerja dengan keras untuk berbagai alasan. Dan semua ibu pasti sebetulnya tidak rela harus meninggalkan anaknya untuk bekerja. Tapi selalu ada jalan yang terbaik yang harus dipilih dan itu menjadi prioritas yang berbeda untuk masing-masing ibu. Life is full of choices, then take the best one. Sometimes the most bitter thing is the best.
Mungkin juga tidak ada pilihan yang benar-benar baik, tanpa ada pengorbanan dan sisi negatifnya. Full-time mom bisa jadi juga bukan pilihan yang terbaik, karena mungkin ada konsekuensi lain yang harus ditanggung, misalnya dari sisi ekonomi.
Tapi selalu ada pilihan yang mempunyai banyak sisi positif dibanding negatif atau mudharat-nya.  Wanita yang tetap mandiri dari sisi ekonomi akan lebih baik, tapi waktu untuk keluarga memiliki porsi yang lebih banyak. Then we need to think, sumber penghasilan yang seperti apa yang bisa memenuhi itu. 




The only two days in a week definitely cannot replace 5 days of emptiness.
Because mother's love and existence cannot be replaced by anything.








Re-defining Dreams - Work with Passion and Living in Happiness

source : quotesnsmiles.com

A dream doesn't come to reality through magic, It takes sweat, determination, and hard work

Mimpi,,bukan mimpi yang menjadi bunga tidur, tapi mimpi yang lebih kepada cita-cita, tujuan, atau malah bisa jadi obsesi. Semua orang tentu punya mimpi. Tapi apa sebetulnya esensi dari mimpi itu, apakah harus hal yang muluk-muluk atau susah sekali diraih? Bisa jadi sih. Tapi tidak sepenuhnya benar.
Menurut saya mimpi itu tidak harus angan-angan yang tidak jelas apakah dapat direalisasikan atau cita-cita jangka panjang, dan bisa jadi mimpi mudah berubah karena dipengaruhi kondisi dan perjalanan hidup kita.
Mimpi dapat menjadi motivasi yang kuat bagi seseorang untuk mewujudkannya. Dan hal ini juga yang harus menjadi motivasi untuk mendefinisikan lagi mimpi-mimpi secara lebih realistis.


Ketika akan masuk bangku kuliah dan ketika lulus yang tertanam di benak anak muda dan orang tua (mungkin kebanyakan berpikiran yang sama), adalah kuliah yang tinggi dengan jurusan yang populer dan motivasinya adalah dapat segera bekerja setelah lulus, untuk kemudian menjadi orang sukses (atau bisa dikatakan secara ekonomi dimudahkan). Ya,, apabila pada akhirnya bisa kuliah di universitas negeri ternama, jurusan yang populer, lulus dengan nilai memuaskan, setelah itu bekerja di ibukota dan di tempat yang menurut pandangan orang awam tentu keren :D Harus bersyukur dengan itu semua.

Semakin dewasa, apalagi ketika sudah berumah tangga akan semakin banyak pula memberikan pelajaran hidup. Banyak pencapaian yang diraih itu bisa jadi tidak seluruhnya merupakan mimpi yang sesungguhnya. Mimpi juga tidak boleh berhenti sampai di sini. Sebagai manusia biasa, banyak hal di masa lalu yang mungkin disesali, tapi tentu tidak boleh terhanyut dalam penyesalan itu, karena penyesalan dekat sekali dengan rasa tidak ikhlas dan tidak bersyukur. Jadi kalau jaman sekarang banyak dikatakan,,kita harus move on :D


Menjadi orang sukses pasti menjadi mimpi banyak orang. Tapi menjadi sukses tidak berarti harus terpaksa melakukan hal-hal yang tidak kita sukai atau bekerja kantoran dengan gaji menjanjikan dan jaminan di hari tua yang sudah jelas. Bagaimana jika pekerjaan ternyata tidak sesuai dengan passion, dan yang pada akhirnya hanya menimbulkan dilema, tekanan, dan ketidaknyamanan dalam hidup. Jika begitu, kita harus berani mendefinisikan mimpi secara lebih tepat, karena mimpi yang berhasil kita raih akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Untuk apa hidup dengan kesuksesan tapi ternyata itu harus dijalani dengan banyak pengorbanan yang seharusnya dapat diminimalisasi ketika kita berusaha mewujudkan mimpi kita yang sebenarnya. Dan kesuksesan itu not merely sukses di karir, tapi sukses dalam hidup as a whole. Kebahagiaan seharusnya menjadi mimpi yang sesungguhnya.

Mendefinisikan kembali mimpi untuk sukses bisa dimulai dengan memikirkan hal yang kita sukai. Start to do something you like, work with your passion. Bekerja sesuai passion cenderung membuat kita menjadi lebih puas dan bahagia dalam mengerjakannya, walaupun harus dibayar dengan rasa capek dan usaha yang keras.
Passion sangat dekat dengan bakat yang kita miliki, hobi dan minat, dan kesesuaian dengan kondisi yang kita alami sehari-hari.
Beberapa orang memang ada yang mendefinisikan passion dengan karir, aktualisasi diri, kemandirian, terutama yang merasa sudah berpendidikan cukup tinggi. Tapi tentu banyak juga yang dikorbankan. Memang tidak dapat dihindari bahwa dalam hidup memang ada positif ada negatifnya.

 Seandainya boleh flash back ke masa lalu mungkin banyak yang disesali karena tidak menekuni bidang yang sesuai dengan bakat, hobi, dan minat, atau hal-hal yang bisa menjadi potensi untuk bekerja mandiri dan lebih berorientasi pada skill. Tapi tidak ada kata terlambat dan lagi-lagi tidak boleh terlarut dalam penyesalan. Mulailah dari sekarang dan raih mimpi agar menjadi lebih bahagia, mungkin tidak hanya di dunia, tapi di akhirat. Dan tanamkan motivasi ini pada diri anak kita nanti, kembangkan bakat dan hobinya, serta membekalinya dengan ketrampilan khusus yang dapat menjadi potensi baginya ketika sudah dewasa nanti. Sehingga peluang sukses tidak akan hanya menjadi pekerja kantoran dan terikat dengan banyak rules.


-- the one who aims to follow her passions --