The Journey : Tersesat di Den Haag

Satu hal yang harus diingat ketika akan melalui sebuah pengalaman pertama adalah melakukan riset dan persiapan sebaik-baiknya :D

Pengalaman pertama ke Belanda, bahkan pertama ke luar negeri, membuat saya cukup nervous. Persiapan yang saya lakukan cukup lama, kurang lebih 2 bulan sebelum keberangkatan. Segala macam dokumen keberangkatan, persiapan untuk perjalanan, sampai dengan rencana lokasi tour di Belanda sudah saya siapkan, even perkiraan total cost selama di sana. Tapi ternyata pada akhirnya ada saja yang tertinggal dan tidak terantipasi :D

***

Perjalanan terbang sendiri dari Jakarta ke Belanda dengan maskapai penerbangan nasional Belanda adalah perjalanan terlama saya, sekitar 15 jam, dengan pemberhentian sekitar 1 jam di Kuala Lumpur. Alhamdulillah tidak ada masalah dengan makanan yang disajikan di pesawat maupun dengan perjalanan secara umum. Jam keberangkatan baik sewaktu berangkat maupun kembali ke Indonesia, juga sangat on time. Beruntung pada saat tiba di sana saya tidak mengalami jet lag yang berarti, bisa langsung menyesuaikan dan on untuk jalan-jalan :D Tapi pada saat kembali ke Indonesia, saya menderita jet lag parah hampir seminggu :(  Salah satu sebabnya adalah karena saya cukup kelelahan berkeliling Leiden sebelum terbang pulang. Jadi menjaga badan tetap fit serta mengatur jam tidur dengan baik, sangat diperlukan sebelum melakukan penerbangan jauh. Apalagi dengan zona waktu yang cukup jauh berbeda.

The Airlines
Hari pertama tiba di Belanda adalah pengalaman yang tidak terlupakan :D

Terpisah dari 2 teman Indonesia (yang baru saja bertemu di bandara Schipol) di stasiun kereta Schipol dan jaringan internet yang terputus, awalnya tidak terlalu membuat saya khawatir. Setibanya di Den Haag Centraal, dengan penuh percaya diri, saya bertanya kepada petugas dan menuju ke halte Tram 3 (jalur yang saya ingat betul untuk menuju ke hotel), tanpa mengkonfirmasi apakah jalur yang saya ambil sudah benar. Setelah menunggu sekitar 1 jam, berharap 2 teman saya datang di halte yang sama, akhirnya saya naik ke Tram 3. Unfortunately, ternyata jalur Tram 3 sedang diperbaiki dan hanya berhenti di halte Brouwersgracht (sementara saya seharusnya turun di Van Speijkstraat, sekitar 2 halte lagi). Karena merasa bingung, bahkan saya tidak terpikir untuk mengikuti jalur Tramnya saja :D
Sedikit kebingungan (dan belum sempat membayar ke sopir :D ) saya bertanya kepada petugas. Saya diarahkan untuk menuju halte di Monsterstraat dengan panduan yang cukup membuat saya bingung. And the story of getting lost was begun :D Sudah sekitar 1 jam, bersyukur tidak lebih dari itu :D, berputar-putar dengan barang bawaan yang cukup berat dan bertanya kesana-kemari. Belum lagi hawa dingin yang cukup menusuk.

Sampailah saya di daerah bernama Hobbemaplein yang saya cukup familiar dengan namanya, karena menjadi salah satu target untuk dikunjungi (Haagse Markt). Saya juga beruntung bertemu dengan orang Indonesia yang membantu saya membaca jalur Tram yang terpampang di halte :D
Akhirnya saya naik Tram 11 dan turun di Laan Vaan Meerdervoort, jalan besar dimana hotel tempat menginap berada. Namun saya masih harus bertanya lagi ke beberapa orang karena ternyata jarak hotel dari tempat saya turun masih sekitar 500 meter. There was a very nice couple yang membantu saya menemukan posisi hotel dengan goog** maps :)

Akhirnya saya bisa berbaring juga di kasur yang empuk setelah berputar-putar sekitar 1 jam. Dua teman saya ternyata sudah tiba di hotel lebih dahulu 1 jam yang lalu menggunakan Tram 17 yang haltenya ternyata sangat dekat dengan hotel. Sebetulnya saya tidak salah juga menaiki Tram 3. Tapi saya melupakan tentang Tram 17 ini. Mungkin memang saya ditakdirkan untuk tersesat waktu itu.

A lesson learned, penting menjadi pertimbangan untuk langsung membeli kartu GSM lokal dan paket datanya di bandara, terutama ketika bepergian seorang diri. Karena walaupun jaringan Wifi cukup baik dan mudah ditemukan di Belanda, namun tidak dapat menjamin untuk bisa selalu terkoneksi tentunya. Perlu membaca kembali dengan benar petunjuk atau practical information yang diberikan dari institusi training. And one more thing. Orang Belanda sebetulnya akan dengan senang hati membantu dan menjawab setiap pertanyaan, tapi hampir semua yang saya tanya tidak tahu pasti posisi jalan yang saya tanyakan.

What a wonderful experience ^_^

Depan Hotel


My NFP Experience - A Ticket to Netherland

It's a naive obsession, but It's my dream.  
A dream that must be put into reality someday


Sebetulnya saya sudah merencanakan sejak tahun 2013 untuk mendaftar beasiswa Belanda untuk shortcourse. Apalagi kesempatan seperti ini akan sulit saya dapatkan kalau tidak berusaha mencari cara sendiri.

Di tahun 2014 barulah saya punya semangat baru dan target baru untuk diwujudkan.

***



Dengan berbekal skor hasil ITP-TOEFL yang mencukupi dari standar yang dipersyaratkan, saya pun mendaftar salah satu beasiswa Belanda, yaitu Netherlands Fellowship Program (NFP).

Beasiswa NFP ini diperuntukkan untuk 51 negara, berbeda dengan StuNed yang memang khusus untuk orang Indonesia. Namun terdapat priority group, sekitar 50% untuk wanita, dan 50% untuk Sub-Sahara Afrika. Tapi untuk yang tidak termasuk grup prioritas tentu masih punya peluang :)

Saya kemudian mencari-cari informasi di website Nuffic dan memilih course yang akan saya ikuti. Salah satu unsur penting dalam penilaian beasiswa NFP adalah relevansinya dengan pekerjaan kita saat ini. Akhirnya saya memilih course dari The Hague Academy for Local Governance (THA) dengan durasi kursus selama 2 minggu, tanggal 27 Oktober s.d 7 November 2014.

Setelah mendaftar melalui aplikasi online di website THA (tanpa admission letter), saya diminta langsung untuk mendaftar ke aplikasi Scholarship Online (SOL) milik Nuffic dan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan:
  • ID card (passport/national ID card)
  • Statement of motivation
  • Employment history
  • Employer's Statement
  • Plan after return
  • Relevance for Organization
  • Relevance for Country


Seluruh korespondensi proses seleksi dilaksanakan melalui email. Seleksi dari Nuffic dilaksanakan secara bertahap. Lama proses untuk tiap tahapan kurang lebih 1 bulan. Pertama Nuffic akan mengecek eligibility, apakah pelamar beasiswa sudah memenuhi kriteria. Selanjutnya akan dilakukan semacam seleksi pendahuluan dan pihak Nuffic meminta konfirmasi kepada pelamar yang lolos seleksi pendahuluan apakah akan menerima tawaran beasiswa yang akan diberikan. Tahap ini sebetulnya sudah hampir 100% menandakan bahwa kita lolos seleksi. Baru kemudian di tahap terakhir adalah final selection, dan di sini pelamar yang lolos seleksi akan mendapatkan email pemberitahuan dari Nuffic berikut rincian beasiswa yang akan didapatkan.
Pihak THA juga langsung menghubungi lewat email dan mengurus segala macam akomodasi serta informasi-informasi penting yang diperlukan.

And alhamdulillah, I got a ticket to Netherlands :)

Thank you, Nuffic ^_^


***

Update : Sepertinya mulai Agustus 2014, terdapat perubahan mekanisme pendaftaran beasiswa NFP. Informasi lebih lanjut dapat dicek ke website Nuffic.