Rush, running like a crazed, time constraint, traffic, and stress
![]() |
| source |
Kelima hal di atas menyatu menjadi "culture" sebagian besar orang yang tinggal dan/atau bekerja di Jakarta. Seminggu setelah libur Lebaran tahun ini, Jakarta terasa sangat nyaman. Transportasi dan jalanan relatif sepi dan lengang. Tapi mulai hari Senin yang lalu, it goes back to "normal". So ironic, karena justru kehidupan yang normal di Jakarta itu adalah yang akrab dengan kelima hal tadi, terutama yang terasa adalah hiruk pikuk di public transport dan jalanan. The abnormality becomes a normal nature, dan selanjutnya justru menjadi semacam culture di Jakarta ini. Mungkin hal seperti ini juga terjadi di kota-kota besar di beberapa negara lain.
***
Jakarta sudah menjadi kota yang sangat padat dan kompleks
permasalahannya, mulai dari kepadatan penduduk, wilayah kumuh, macet,
sampai banjir. Tapi bagaimanapun juga, Jakarta masih menjadi kota
favorit tujuan urbanisasi. But the side effects are so massive.
Setiap pagi, terutama orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta tapi bekerja di Jakarta, mau tidak mau harus berangkat lebih pagi. Mereka yang memanfaatkan public transport, terutama yang menggunakan jasa transportasi KRL (commuter line) tentu harus pandai-pandai mengatur waktunya di pagi hari dengan adanya perjalanan KRL yang sudah terjadwal. Beruntung, jadwal KRL saat ini sudah cukup banyak dibandingkan dengan dulu. But inevitably, you have to run like a crazed, apabila tidak ingin ketinggalan kereta. Because you know what, ketinggalan kereta apabila di depan mata, rasanya menyakitkan :D (self experience). Belum lagi tingkat kompetisinya yang tinggi. Kompetisi di sini maksudnya adalah kompetisi untuk masuk ke dalam gerbong, kompetisi untuk mendapatkan tempat duduk, even kompetisi untuk keluar gerbong. Mungkin bisa digambarkan dengan hiperbola sebagai competition to survive ^_^ You have to be strong and fit indeed.
Setiap pagi, terutama orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta tapi bekerja di Jakarta, mau tidak mau harus berangkat lebih pagi. Mereka yang memanfaatkan public transport, terutama yang menggunakan jasa transportasi KRL (commuter line) tentu harus pandai-pandai mengatur waktunya di pagi hari dengan adanya perjalanan KRL yang sudah terjadwal. Beruntung, jadwal KRL saat ini sudah cukup banyak dibandingkan dengan dulu. But inevitably, you have to run like a crazed, apabila tidak ingin ketinggalan kereta. Because you know what, ketinggalan kereta apabila di depan mata, rasanya menyakitkan :D (self experience). Belum lagi tingkat kompetisinya yang tinggi. Kompetisi di sini maksudnya adalah kompetisi untuk masuk ke dalam gerbong, kompetisi untuk mendapatkan tempat duduk, even kompetisi untuk keluar gerbong. Mungkin bisa digambarkan dengan hiperbola sebagai competition to survive ^_^ You have to be strong and fit indeed.
![]() |
| source |
Menggunakan alat transportasi publik lain pastinya juga tidak jauh beda perjuangan dan pengorbanannya. Tidak ketinggalan, kendaraan pribadi juga demikian. Harus menghadapi macet yang sangat menguji kesabaran.
Istilah yang sering dikatakan orang-orang adalah "hidup di Jakarta seperti habis di jalan". That's true, terutama untuk orang-orang yang harus berangkat pagi-pagi dan tiba di rumah malam hari untuk bekerja. Meningkatnya level individualisme dan stres, serta menurunnya empati juga menjadi beberapa dampak yang cukup terasa.
![]() |
| source |
Rush dan time constraint menjadi hal yang tidak terhindarkan. Karena bagi beberapa orang yang terikat dengan jam kerja, terlambat datang melebihi jam yang ditentukan dapat "menghadiahi" kita dengan punishment, entah itu potongan gaji atau harus mengganti waktu keterlambatan (another self experience :D). Selain itu waktu yang tersisa untuk rumah dan keluarga, walaupun tidak seberapa, merupakan hal yang sangat penting dan berarti.
***
Life is full of consequences. Begitu juga apabila harus berinteraksi setiap hari dengan kehidupan Jakarta. Untuk tetap bertahan menjadi "normal" yang sesungguhnya tentunya perlu manajemen yang cukup sulit. Tapi paling tidak, itu harus diupayakan agar kualitas hidup menjadi lebih baik.
1. Time management
Kehilangan banyak waktu di jalan dan jam kerja yang relatif lebih panjang daripada di daerah lainnya tentu memerlukan time management yang baik. Mengatur waktu sebaik-baiknya, mulai dari kapan waktu tidur, kapan waktu bangun, kapan harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan rumah, serta menetapkan target penyelesaian pekerjaan kantor agar waktu yang telah tersita banyak tidak terbuang sia-sia, dan tentunya dapat pulang tepat waktu. Tidak ada salahnya menetapkan target waktu pada setiap aktivitas yang dilakukan setiap harinya. Walaupun untuk beberapa hal tentunya berada di luar kendali. But just try for some things we can do.
2. Stress management
Apabila sudah mulai meningkat level stres dan jenuh, perlu mencoba mencari sesuatu yang baru, treat ourselves, mengerjakan sesuatu yang disukai, rileks dan berusaha untuk lebih santai. Mood yang tidak stabil pasti sering terjadi. Terkadang perlu dikesampingkan hal-hal yang menjadikan kita terburu-buru. Ketika stres dan emosi mulai datang, cobalah menenangkan diri, bisa dengan pergi menjauh sebentar, duduk atau sekedar jalan-jalan sebentar, atau bisa juga dengan mendengarkan musik favorit.
3. Social interaction
Di tengah meningkatkan individualisme dan menurunnya empati, ada baiknya tidak meninggalkan interaksi sosial dimanapun. Mungkin akan menjadi sulit, dikarenakan kesibukan, kelelahan, atau hal lainnya. Tapi paling tidak, don't hesitate to speak, smile, or share a good thing with others. Berbicara santai dan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dekat akan memberikan semangat baru.
4. Realistis dan Tetap Bersabar
Patience is the most important thing. Kita perlu realistis dan tidak memaksakan diri untuk harus mencapai seluruh target dan keinginan, karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Misalnya, tidak perlu memaksa untuk harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk ketika kelelahan setelah pulang bekerja. Ada baiknya melibatkan anggota keluarga yang lain untuk mengerjakannya.
Di tengah meningkatkan individualisme dan menurunnya empati, ada baiknya tidak meninggalkan interaksi sosial dimanapun. Mungkin akan menjadi sulit, dikarenakan kesibukan, kelelahan, atau hal lainnya. Tapi paling tidak, don't hesitate to speak, smile, or share a good thing with others. Berbicara santai dan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dekat akan memberikan semangat baru.
4. Realistis dan Tetap Bersabar
Patience is the most important thing. Kita perlu realistis dan tidak memaksakan diri untuk harus mencapai seluruh target dan keinginan, karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Misalnya, tidak perlu memaksa untuk harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk ketika kelelahan setelah pulang bekerja. Ada baiknya melibatkan anggota keluarga yang lain untuk mengerjakannya.
5. Strategic Planning
Untuk yang tidak ingin berlama-lama terperangkap dalam kondisi yang dilematis seperti saat ini, maka penting untuk membuat perencanaan jangka panjang dan berinvestasi. Save your money and improving talent or other potential things. Siapa tahu pelan-pelan bisa "menyingkir" dari hiruk pikuk kota Jakarta, serta mengerjakan sesuatu yang lebih membahagiakan dan waktu bisa dimanfaatkan lebih efektif.
"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. "
~ Seno Gumira Ajidarma ~


